Kultur Sekolah
Nama : Lhaila Juli Styaningsih (11901322)
Kelas : PAI 4A
Magang 1
Kultur Sekolah
Ketika seseorang menyebut nama sekolah kesan
pertama yang ada dipikiran mereka yaitu kesan mengenai sekolah itu sendiri
entah prestasinya, akreditasi atau hal-hal yang bersifat positif ada juga yang
bersifat negatif entah sekolah itu bangunannya kusam, lingkungan kotor atau bahkan
citra anak murid yang terkenal nakal. Kesan itulah yang terbangun dari proses
terbentuknya kultur sekolah.
Dalam memilih sekolah atau jasa pendidikan
sekolah, kultur sekolah akan menjadi daya tarik konsumen. Semakin positif
pendapat orang mengenai sekolah semakin tertarik juga konsumen kepada sekolah. Landasan
dari tercapainya semua bentuk prestasi warga sekolah berasal dari kultur
sekolah itu sendiri.
Menurut gareth R. Jones dan Jennifer M. George
(2009), sebagai sebuah organisasi, sekolah ada yang memiliki kultur kuat
(strong) dan ada pula yang lemah (weak). Ketika warga sekolah, dari kepala
sekolah hingga bagian kebersihan, memiliki komitmen yang tinggi terhadap
nilai-nilai yang disepakati bersama maka sekolah tersebut memiliki kultur yang
kuat (strong). Nilai kedisiplinan, misalnya, yang disepakati dan diterapkan
bersama secara bertanggung jawab dan penuh komitmen maka sekolah tersebut memiliki
kultur yang kuat. Sebaliknya, jika seluruh warga sekolah atau sebagian warga
sekolah tidak memiliki komitmen terhadap implementasi nilai-nilai yang
disepakati maka sekolah tersebut memiliki kultur organisasi yang lemah. Sekolah
tampak sewrawut karena warganya kurang disiplin atau "sak geleme udele
dewe" (bahasa Jawa). Dan prestasi apapun akan sulit tumbuh di lingkungan
sekolah yang tidak memiliki kemapanan kultur positif.
Kultur sekolah harus dibangun di atas landasan
ilmu dan pemahaman yang memadai. tahapan sosialisasi menjadi langkah awal
penanaman kultur, khususnya kepada warga baru, guru atau siswa baru. Melalui
tahapan sosialisasi, warga sekolah mengawali proses internalisasi nilai-nilai
dan norma yang dianut sekolah .
Kultur sekolah adalah tradisi sekolah yang
tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah.
Tradisi itu mewarnai kualitas kehidupan sebuah sekolah. Semakin baik atau
bagusnya nilai-nilai yang diterapkan sekolah, semakin bagus juga kualitas dan
pendapat atau minat konsumen terhadap sekolah itu sendiri.
Ada beberapa manfaat dari pengembangan kultur
sekolah yaitu menjamin kualitas kerja yang lebih baik, membuka seluruh jaringan
dan komunikasi dari segala jenis dan level, lebih terbuka dan transparan,
menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi, meningkatkan rasa
solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi, dapat memperbaiki jika adanya
kesalahan, dapat beradaptasi dengan perkembangan IPTEK, cepat menyesuaikan diri
dengan perkembangan yang terjadi diluar.
Adapun beberapa peran dari kultur sekolah itu sendiri
yaitu :
1. Bernilai strategis
Maksudnya adalah budaya yang mampu berimbas
dalam kehidupan sekolah secara dinamis
2. Memiliki daya ungkit
Maksudnya budaya yang memiliki daya gerak akan mendorong semua warga untuk berprestasi
3. Berpeluang sukses
Maksudnya budaya yang memilik daya ungkit dan
daya gerak yang tinggi. Hal ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa
keberhasilan dan rasa mampu untuk melaksanakan tugas dengan baik
Faktor pembentuk kultur sekolah adalah
1. Nilai, moral, sikap dan perilaku siswa
2. Komponen-komponen yang ada di sekolah
3. Aturan yang dibuat oleh sekolah
1. Unsur-unsur budaya sekolah yaitu :
1. 1. Unsur yang tidak kasat mata
Filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup atau yang di anggap penting dan harus diperjuangan oleh sekolah
2. Unsur yang kasat mata
1. Dapat termenifestasikan secara konseptual
2. Proses pengembangan kultur sekolah dapat dilakukan melalui 3 tataran yaitu :
3. Pengembangan pada tataran spirit dan nilai-nilai
4. Pengembangan pada tataran teknis
5. Pengembangan pada tataran sosial
Kultur sekolah positif itu seperti sekolah bekerja sama atau berperan penting dalam prestasi sekolah atau warga sekolahnya, sekolah memberikan sarana siswa untuk belajar seperti ruangan penunjang belajar yang bagus dan lengkap, memberikan pembinaan, mengadakan kegiatan yang dapat memberikan tempat siswa berkreasi, inisatif, sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Sedangkan kultur sekolah yang negatif seperti perkelahian antar siswa dan anak yang takut berbuat salah.
Komentar
Posting Komentar